#188
GARIS TUHAN
Nur Candra Oktarian
Cuaca mendung
terasa sesuai dengan suasana hatiku hari ini. Aku tak tahu penyebab hilangnya
keceriaanku. Dengan beberapa buku di tangan, Langkah kakiku membelah keramaian
di lorong ini. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Tak heran masih banyak
siswa yang memilih untuk berkumpul di depan ruang kelasnya. Tak sepertiku yang
ingin cepat sampai rumah. Tentu ini tak seperti biasanya. Aku terbiasa pulang
saat langit dihiasi semburat kuning matahari yang kembali ke singgasananya.
Saat menunggu
angkutan umum, kudengar langkah kaki mendekat. Aku sangat mengenal langkah ini.
Tak perlu bagiku menengokkan kepala dan memastikan sosok tersebut. Sudah pasti
itu Rafiq. Memang hampir setiap hari Aku naik bus bersamanya.
“Hei, tumben jam
segini sudah pulang?” tanya Rafiq mengawali percakapan kami.
“Hari ini tidak
ada acara, jadi Aku ingin cepat sampai rumah” jawabku dengan sedikit
menyunggingkan senyum.
“Oh, Aku
kebetulan juga tidak ada acara”
Kami saling
melemparkan senyum dan beberapa saat hanya hening yang menyelimuti. Di halte
bus ini hanya ada kami berdua. Halte ini tak pernah ramai. Banyak siswa yang
lebih memilih memakai kendaraan pribadinya. Lalu Aku? Untuk apa memakai
kendaraan pribadi saat masih ada angkutan umum. Dulu bus mejadi favorit orang
yang akan berpergian. Berbeda dengan sekarang. Sering aku merasa seperti
pemilik bus hanya dengan Rp.2000. Alasan ini selalu kupakai untuk menutupi
kenyataan yang sebenarnya sudah dilihat semua orang.
Ketika sebuah bus
berhenti di halte, Aku dan Rafiq masuk dan memilih duduk di bagian tengah. Aku
yang duduk di samping jendela lebih banyak memalingkan wajah ke arah jalanan. Senyuman
yang menghiasi wajahku terlihat irit khusus hari ini. Rafiq sendiri terlihat
kikuk sejak duduk di sampingku. Sesekali sudut mataku menangkap ekspresinya
yang sibuk mencari-cari topik obrolan. Tapi aku sendiri tak ingin memulai
percakapan.
Kupejamkan mata
menikmati semilir angin dari kaca jendela. Andaikan hidup itu adil Aku pasti
akan bahagia. Orangtuaku tak perlu bekerja keras kesana kemari untuk mencari
uang. Huft, kuhembuskan nafas dengan berat. Bahkan Aku sudah satu bulan ini tak
bertemu dengan Bapak. Ibu pun lebih sering menghabiskan waktunya bekerja di
toko kue milik tetangga.
Aku teringat satu
hal, Bapak hari ini akan pulang. Satu bulan ini, ia bekerja di Cirebon. Menjadi
buruh bangunan di kota itu. Mengingatnya aku semakin semangat untuk sampai
rumah. Kubuka kedua kelopak mataku dan ternyata aku hampir sampai. Aku berdiri
dari tempatku duduk. Setelah berpamitan dengan Rafiq kuketukkan jari tanganku
keatas plafon bus. Lalu turun setelah membayar ke sopir.
Aku masih harus
berjalan sekitar 1km. Setiap pulang sekolah Aku selalu mampir ke warung Bu Nina
untuk mengambil uang hasil jualan gorengan yang setiap pagi Ibu titipkan. Uang
inilah yang setiap harinya menjadi uang sakuku. Ibu memang sangat pintar
mencari celah untuk usaha.
Semakin langkahku
mendekat ke rumah, perasaanku bertambah gelisah. Mendung pun kembali berkumpul di
atas ku. Angin berhembus cukup kencang menyapu kulitku. Hingga akhirnya
titik-titik hujan menyadarkanku untuk berlari agar bisa berteduh dirumah
sederhana yang selalu menghangatkan keluargaku.
Dadaku terasa
sesak saat melihat kerumunan warga di pojok halaman rumah. Banyak tetangga yang
kukenal berkumpul di teras. Aku pun sempat melihat halaman depan rumah lebih
bersih dari biasanya. Aku berdiri kaku mencoba mencerna kejanggalan-kejanggalan
yang ada.
Air mataku luruh
mengalir bersama rintikan hujan saat sebuah ambulan melewatiku. Tangisan Ibu
nyata terpampang di depan mataku. Sebuah peti dengan terburu diturunkan dan
dibawa masuk ke dalam rumah.
Tepukan di pundak
seolah menyadarkanku kembali ke bumi. Ini nyata. Semuanya memang terjadi. Kulihat
senyum Rafiq berusaha menghiburku. Aku tak bisa berkata-kata. Hanya pelukan
hangat menggiringku masuk ke rumah yang dapat kurasakan. Aku bahkan tak tahu
sejak kapan Rafiq mengikutiku.
Di dalam rumah,
pelukkan Ibu menyambutku. Aku bisa merasakan tangisan yang ia tahan. Aku
semakin mengeratkan pelukannya.
“Bapak sudah
pulang nduk”.
Kontak: nurcandra21@gmail.com