Thursday, 9 March 2017

Lelaki Pabrik Cerpen



#035
LELAKI PABRIK CERPEN

Dialah Ken Anggoro. Pria bertubuh jangkung, tetangga terdekatku. Prahara itu datang sejak kami ketahuan memiliki minat dan bakat yang sama dalam dunia kepenulisan. Akudan Ken mengikuti pelatihan menulis di beberapa tempat, ikut bergabung dengan komunitas menulis, dan berbagai forum kepenulisan untuk semakin mengembangkan minat dan bakat kami. Ken sangat produktif dan cerpennya dimuat di berbagai media, sedangkan aku tak lebih dari penulis pemula yang tidak pernah menyelesaikan outline tulisan yang sudah beredar di kepala. Ujungnya aku dijangkiti penyakit menahun berupa dengki dan iri.
Ken dinobatkan sebagai lelaki pabrik cerpen. Ia bisa menghasilkan cerpen dalam sekali duduk. Sejujurnya aku ingin menelisik lebih dalam, apa menariknya cerpen-cerpen Ken Anggoro yang tidak lebih dari enam ratus kata itu. Terlalu sedikit untuk menuliskan prolog yang indah, konflik yang menggigit, dan epilog yang memukau. Tetapi mengapa media begitu mudahnya memuat cerpen Ken?
Kejutan besar itu datang. Pemerintah daerah Gunungkidul menyelenggarakan lomba menulis cerpen bertema Gunungkidul. Aku dan Ken ikut serta. Ken menjadi rival nomor wahid bagiku. Runyamnya, naskah yang diterima panitia tidak boleh melebihi enamratus kata. Dan spesialis enamratus kata itulagi-lagi, Ken.
“Kalau kau hanya menulis untuk menang lomba, maka kau akan patah hati jika tidak menjadi pemenang. Menulislah dengan hati”
Itu kalimat terakhir yang kudengar dari bibir Ken ketika kami bertemu sehari yang lalu. Aku memang berambisi meraih juara satu, abaikan hadiah uang sebesar satu juta. Aku hanya ingin keberadaanku sebagai penulis diakui. Diakui oleh siapa, aku juga bingung menjawabnya.
Aku memeras otak mencari ide dan riset yang mendalam terhadap cerpen yang akan kukirimkan kepada pantia. Aku ingin menghasilkan cerpen yang penuh dengan kritik sosial serta penuh gagasan. Setidaknya aku harus menghasilkan cerpen yang selangkah lebih maju daripada tulisan Ken.
Sepuluh hari terakhir menjelang penutupan penerimaan naskah, aku masih terpakudi depan laptop kesulitan merangkai kata. Dalambenakku, Ken mungkin sudah mengirim sepuluh karyanya kee-mail panitia lomba. Aku tersenyum kecut, darahkuserasanaikkeubun-ubun.
“Wahyuni, lupakan soal kedengkianmu dengan Ken. Ken berusaha dengan baik untuk meraih apa yang ia dapatkan saat ini. Kalau kau hanya menulis berdasarkan kebencian dan iri hati, kau tidakakan memberikan manfaat apapun dengan tulisanmu”
Itu suara Bapak. Beliau rupanya mengamati apa yang terjadidengankudan Ken duatahunterakhirini.
“Bapak, inginmelihat kalian akursepertidulu.Kautidakakanmelihatkelebihan yang dimilikicerpan Ken karenamatadan hatimu sudah ditutup dengan iri yang dalam”
Dulu, akulah yang memulai mendiamkan dan bersikap sengit terhadap Ken. Aku gengsi jika harus minta maaf. Tetapi jika Ken yang harus datangdan berlutut padaku, aku tidak tahu atas dasar apa. Diamemang tidakpunya kesalahan apapun.
Sore dengan gerimis yang syahdu. Ken datangke rumahku dengan membawa satu buah buku terbaru karya penulis terkenal. Akuterkejut, Ken bahkan mendahului minta maaf, dan dia bahkan tidak pernah melakukankesalahanapapun.
Kejadianitu merubah semuanya. Aku berguru kepada Ken soal menulis enam ratus kata. Hati dan mataku terbuka. Ken memanghebat, ia menuliskan prolog, konflik, epilog, dan menceritakan karak tertokoh dalam cerpennya dengankuat.
“Kauingin memikat perhatian juri dengan jumlah kata yang sedikititu? Mudahsaja, hilangkan narasi yang tidakpenting, langsunglarikekonflikcerpen, dan akhiri dengan kalimat penutup yang memukau. Cobalah, kautidakakan bisatanpa mencoba”
Dan beberapasaat kemudian jarikumenaridi atas laptop. Ken tersenyum melihat cerpentulisanku.
“LihatWahyuni, bahkan kau sudah mulai menghasilkan cerpendalam sekaliduduk”
Aku tertawadan Ken masih sibuk meneliti tulisanku.
“Ini bagus Wahyuni, kaubisabelajar dalamsatu kali menuliscerpen.Aku memanglelaki pabrik cerpen, tetap ikaujuga pantasdinobatkan sebagai perempuan pabrik cerpen”
Akutersipumalu,”Kaujangan mendahului takdir Ken”
“Apa?Mendahului takdir? Akuhanya menebaktakdirmu, kurasatidakjauh-jauhdariitu. Kau akanjadipenulis yang hebatsuatu harinanti. Ingat, konsistenmenulis janganhanyaikutpelatihan saja.Kau kaya teoritetapimiskinpraktek”
**********



Peni Nur Aisyah, Guru lulusan S1 FAI UMY
Kontak:  peninurAisyah@gmail.com

No comments:

Post a Comment