Thursday, 9 March 2017

Garis Tuhan



#188
GARIS TUHAN
Nur Candra Oktarian

Cuaca mendung terasa sesuai dengan suasana hatiku hari ini. Aku tak tahu penyebab hilangnya keceriaanku. Dengan beberapa buku di tangan, Langkah kakiku membelah keramaian di lorong ini. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Tak heran masih banyak siswa yang memilih untuk berkumpul di depan ruang kelasnya. Tak sepertiku yang ingin cepat sampai rumah. Tentu ini tak seperti biasanya. Aku terbiasa pulang saat langit dihiasi semburat kuning matahari yang kembali ke singgasananya.
Saat menunggu angkutan umum, kudengar langkah kaki mendekat. Aku sangat mengenal langkah ini. Tak perlu bagiku menengokkan kepala dan memastikan sosok tersebut. Sudah pasti itu Rafiq. Memang hampir setiap hari Aku naik bus bersamanya.
“Hei, tumben jam segini sudah pulang?” tanya Rafiq mengawali percakapan kami.
“Hari ini tidak ada acara, jadi Aku ingin cepat sampai rumah” jawabku dengan sedikit menyunggingkan senyum.
“Oh, Aku kebetulan juga tidak ada acara”
Kami saling melemparkan senyum dan beberapa saat hanya hening yang menyelimuti. Di halte bus ini hanya ada kami berdua. Halte ini tak pernah ramai. Banyak siswa yang lebih memilih memakai kendaraan pribadinya. Lalu Aku? Untuk apa memakai kendaraan pribadi saat masih ada angkutan umum. Dulu bus mejadi favorit orang yang akan berpergian. Berbeda dengan sekarang. Sering aku merasa seperti pemilik bus hanya dengan Rp.2000. Alasan ini selalu kupakai untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya sudah dilihat semua orang.
Ketika sebuah bus berhenti di halte, Aku dan Rafiq masuk dan memilih duduk di bagian tengah. Aku yang duduk di samping jendela lebih banyak memalingkan wajah ke arah jalanan. Senyuman yang menghiasi wajahku terlihat irit khusus hari ini. Rafiq sendiri terlihat kikuk sejak duduk di sampingku. Sesekali sudut mataku menangkap ekspresinya yang sibuk mencari-cari topik obrolan. Tapi aku sendiri tak ingin memulai percakapan.
Kupejamkan mata menikmati semilir angin dari kaca jendela. Andaikan hidup itu adil Aku pasti akan bahagia. Orangtuaku tak perlu bekerja keras kesana kemari untuk mencari uang. Huft, kuhembuskan nafas dengan berat. Bahkan Aku sudah satu bulan ini tak bertemu dengan Bapak. Ibu pun lebih sering menghabiskan waktunya bekerja di toko kue milik tetangga.
Aku teringat satu hal, Bapak hari ini akan pulang. Satu bulan ini, ia bekerja di Cirebon. Menjadi buruh bangunan di kota itu. Mengingatnya aku semakin semangat untuk sampai rumah. Kubuka kedua kelopak mataku dan ternyata aku hampir sampai. Aku berdiri dari tempatku duduk. Setelah berpamitan dengan Rafiq kuketukkan jari tanganku keatas plafon bus. Lalu turun setelah membayar ke sopir.
Aku masih harus berjalan sekitar 1km. Setiap pulang sekolah Aku selalu mampir ke warung Bu Nina untuk mengambil uang hasil jualan gorengan yang setiap pagi Ibu titipkan. Uang inilah yang setiap harinya menjadi uang sakuku. Ibu memang sangat pintar mencari celah untuk usaha.
Semakin langkahku mendekat ke rumah, perasaanku bertambah gelisah. Mendung pun kembali berkumpul di atas ku. Angin berhembus cukup kencang menyapu kulitku. Hingga akhirnya titik-titik hujan menyadarkanku untuk berlari agar bisa berteduh dirumah sederhana yang selalu menghangatkan keluargaku.
Dadaku terasa sesak saat melihat kerumunan warga di pojok halaman rumah. Banyak tetangga yang kukenal berkumpul di teras. Aku pun sempat melihat halaman depan rumah lebih bersih dari biasanya. Aku berdiri kaku mencoba mencerna kejanggalan-kejanggalan yang ada.
Air mataku luruh mengalir bersama rintikan hujan saat sebuah ambulan melewatiku. Tangisan Ibu nyata terpampang di depan mataku. Sebuah peti dengan terburu diturunkan dan dibawa masuk ke dalam rumah.
Tepukan di pundak seolah menyadarkanku kembali ke bumi. Ini nyata. Semuanya memang terjadi. Kulihat senyum Rafiq berusaha menghiburku. Aku tak bisa berkata-kata. Hanya pelukan hangat menggiringku masuk ke rumah yang dapat kurasakan. Aku bahkan tak tahu sejak kapan Rafiq mengikutiku.
Di dalam rumah, pelukkan Ibu menyambutku. Aku bisa merasakan tangisan yang ia tahan. Aku semakin mengeratkan pelukannya.
“Bapak sudah pulang nduk”.


Nur Candra Oktaria, tinggal di Karangnongko, Wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul  
Kontak: nurcandra21@gmail.com

No comments:

Post a Comment