#038
DI INSANG IKAN-IKAN, Tuhan BERSEMAYAM
Sri Wintala Achmad
Semasih hidup, Kakek Jafar suka memelihara
ikan-ikan di akuairum. Dari ikan-ikan seukuran ibu jari tangan hingga ibu jari
kaki menjadi warga dunia kaca. Sebagian mereka bersisik kuning kunir dengan
sirip dan ekor keemasan. Sebagian lainnya bersisik merah saga dengan sirip dan
ekor keperakan.
Sepulang dari ladang di penghujung
sore, Kakek Jafar selalu duduk di ruang tamu, menyaksikan ikan-ikannya yang
berenangan di akuarium. Ia tersenyum saat seekor ikan merah mencari-cari ikan
kuning yang sembunyi di balik batu berlubang. Ia bersedih saat ikannya sakit
hingga mati terapung.
Kesedihan Kakek Jafar memuncak
ketika seluruh ikannya yang seMinggu tak dikasih makan karena menjenguk cucunya
di kota itu mati mengenaskan di akuarium. SeMinggu sesudah menguburkan bangkai
seluruh ikannya di samping rumah, ia mulai sakit-sakitan. Belum sempat Nenek
Sarifah membawanya ke rumah sakit, suaminya itu meninggal.
Sepeninggal Kakek Jafar, Nenek
Sarifah kesepian. Tak ada teman yang bisa diajak ngobrol. Anak, menantu, dan
cucu-cucunya yang hidup di kota tak pernah menjenguknya. Tetangganya tinggal
sangat jauh dari rumahnya yang terpencil di tepi ladang. Tak ada radio. Tak ada
televisi.
Merasa hidup sendiri, Nenek Sarifah
merindukan kawan di rumahnya. Membeli ikan-ikan hias sewaktu pergi ke pasar.
Memasukkan ikan-ikan itu ke dalam akuarium warisan Kakek Jafar. Meletakkan
akuarium itu di sudut ruang tamu. Sejak itu, ia merasa memiliki kawan untuk
mencurahkan segala beban yang tertimbun di benak kepala.
Sesudah memelihara ikan-ikan di
akuarium, Nenek Sarifah memiliki pekerjaan tambahan. Pagi sebelum berangkat ke
ladang, ia memberi makan ganggang renik dan cacing sutra pada ikan-ikan itu. Sepulang
dari ladang saat sore, ia menyempatkan duduk di ruang tamu untuk bercengkerama
dengan ikan-ikannya. Mengetuk-ngetukkan ujung-ujung jarinya dari satu sisi ke sisi
akuarium lainnya. Betapa girang, ketika ikan-ikan itu memburu jari-jarinya.
Hari itu, Nenek
Sarifah yang semula membenci ikan-ikan hingga sering ngomel ketika Kakek Jafar
memboroskan waktu di ruang tamu itu merasa bersalah. Ia pun sontak teringat pada
mendiang suaminya yang selalu mengatakan, “Betapapun tak memberikan keuntungan
uang, ikan-ikan itu membuatku bahagia. Kebahagiaan itu sama halnya Tuhan yang
tak ternilai harganya?”
***
Hari demi hari, Nenek Sarifah tak
lagi merasa sepi. Ikan-ikan yang tak pernah merasa lelah berenangan di akuarium
itu menjadi kawannya. Kebahagiaan pun semakin bersahabat dengannya. Terlebih
ketika merasakan ikan-ikan itu tampak bahagia di dunia mungilnya. Mirip
napi-napi yang dapat mengubah ukuran penjara seluas dunia tak bertepi.
Suatu malam. Selagi Nenek Sarifah
menyaksikan ikan-ikan yang tengah bergurau, pintu rumahnya diketuk. Ia terkejut
bercampur heran. Karena selama bertahun-tahun, tak seorang pun datang ke
rumahnya. Karenanya, ia berpikir kalau yang datang bukan manusia. Barangkali
hantu penunggu pohon munggur yang tumbuh di belakang rumah, atau malaikat yang
akan mencabut nyawanya.
Dengan tubuh bergetar, Nenek Sarifah
beranjak dari kursi. Berjalan bersijingkat ke arah pintu. Ketika pintu itu
dibukanya, ia melihat pria muda berwajah kusut, berambut kumal, bertubuh dekil.
“Siapakah kamu, Nak? Kenapa datang ke rumahku malam-malam begini?”
“Mencari Tuhan.”
Mendengar jawaban pria muda itu,
Nenek Sarifah sejenak terdiam. Dalam hati, ia menduga kalau pria muda itu tengah
dirundung kesepian maha dahsyat. Kesepian yang berujung pergolakan jiwa. Kegelisahan
yang menjadikannya seperti angin. Bertiup. Mencari ruang untuk mengendapkan
jiwanya.
“Apakah di rumahku, Tuhan akan kamu temukan?”
“Bisik hatiku begitu.” Pria muda itu
mengerling akuarium di sudut ruang tamu. “Bolehkah aku tinggal di rumah Nenek
barang sehari dua hari? Aku yakin Tuhan tinggal di sini.”
“Selamanya kamu tinggal di sini, buatku tak
soal. Asal kamu tak mengganggu ikan-ikanku.”
“Tentu.”
Nenek Sarifah membuka pintu lebar-lebar.
Mempersilakan pria muda itu untuk memasuki rumahnya. Sesudah tamunya duduk di
kursi ruang tamu, ia pergi ke dapur. Merebus air hingga masak. Selang beberapa
saat, ia kembali ke ruang tamu. “Mandilah dengan air hangat, Nak! Biar tubuhmu
menjadi segar.”
Pria muda itu melangkah ke sumur di samping
rumah. Membasuh sekujur tubuhnya dengan air hangat. Seusai mengenakan pakaian
milik mendiang Kakek Jafar, ia kembali ke ruang tamu. Mengisi perut dengan
pohong rebus yang masih mengepulkan asapnya.
Malam mulai larut. Nenek Sarifah meninggalkan
pria muda yang masih berjaga di ruang tamu itu. Memasuki bilik. Merebahkan
tubuhnya di ranjang bambu. Dalam tidur, ia bermimpi. Menyaksikan cahaya terang
yang memasuki akuarium di ruang tamu itu. Berubah menjadi ikan.
***
Ambang subuh, Nenek Sarifah
terbangun. Usai bersembahyang, ia pergi ke ruang tamu untuk menjenguk pria muda
itu. Sudah berulang kali ia mengelilingi rumahnya sampai terbit matahari, namun
yang dicarinya tetap tak ada. Tak heran, kalau ia berpikir bahwa orang yang
semalam bertamu adalah hantu penunggu pohon munggur. Bukan malaikat yang selalu
berpakaian rapi dengan tubuh menebarkan aroma kesturi.
Tujuh hari berlalu. Nenek Sarifah
telah melupakan tamu misteriusnya yang mengaku sebagai pencari Tuhan. Namun
saat pulang dari ladang, ia dikejutkan dengan amplop yang tergeletak di depan
pintu rumahnya. Ia memungutnya. Mengambil selembar kertas di dalamnya.
Membacanya dengan terbata-bata, “Terima
kasih, aku ucapkan. Berkat ikan-ikan yang Nenek pelihara di akuarium itu, aku
mendapatkan pelajaran. Di mana Tuhan tak perlu aku cari ke mana-mana. Di ruang
seluas akuarium, Tuhan itu berada. Meluapkan kebahagiaan pada ikan-ikan itu.
Hingga mereka menikmati kehidupan di dunia yang mungil. Mereka tak pernah
mencari Tuhan. Karena Tuhan telah bersemayam di insang mereka. Sungguh
menakjubkan!”
Nenek Sarifah meneteskan air mata keharuan. Bukan
lantaran membaca surat itu, namun lantaran ikan-ikan di dalam akuariumnya. Ikan-ikan
yang selalu memberikan kebahagiaan. Ikan-ikan yang memberikan jalan bagi setiap
orang untuk menemukan Tuhan-nya. Ikan-ikan yang mengingatkan pesan Kakek Jafar.
Lelaki tua bersahaja yang telah tinggal di surga.
SRI WINTALA ACHMAD.
Pernah kuliah di Fak. Filsafat UGM Yogyakarta. Menulis dalam tiga bahasa (Inggris, Indonesia, dan Jawa).
Juara II Lomba Menulis Cerpen 'Rahasia Ilahi' yang diselenggarakan FPNB bulan Januari 2017
Kontak: gununggampingindonesia@gmail.com
***
Naskah menjadi hak FPNB
Salam Sastra
SBB
Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa
No comments:
Post a Comment