Wednesday, 8 March 2017

Di Insang Ikan-Ikan, Tuhan Bersemayam



#038
DI INSANG IKAN-IKAN, Tuhan BERSEMAYAM
Sri Wintala Achmad


Semasih hidup, Kakek Jafar suka memelihara ikan-ikan di akuairum. Dari ikan-ikan seukuran ibu jari tangan hingga ibu jari kaki menjadi warga dunia kaca. Sebagian mereka bersisik kuning kunir dengan sirip dan ekor keemasan. Sebagian lainnya bersisik merah saga dengan sirip dan ekor keperakan.
            Sepulang dari ladang di penghujung sore, Kakek Jafar selalu duduk di ruang tamu, menyaksikan ikan-ikannya yang berenangan di akuarium. Ia tersenyum saat seekor ikan merah mencari-cari ikan kuning yang sembunyi di balik batu berlubang. Ia bersedih saat ikannya sakit hingga mati terapung.
            Kesedihan Kakek Jafar memuncak ketika seluruh ikannya yang seMinggu tak dikasih makan karena menjenguk cucunya di kota itu mati mengenaskan di akuarium. SeMinggu sesudah menguburkan bangkai seluruh ikannya di samping rumah, ia mulai sakit-sakitan. Belum sempat Nenek Sarifah membawanya ke rumah sakit, suaminya itu meninggal.
            Sepeninggal Kakek Jafar, Nenek Sarifah kesepian. Tak ada teman yang bisa diajak ngobrol. Anak, menantu, dan cucu-cucunya yang hidup di kota tak pernah menjenguknya. Tetangganya tinggal sangat jauh dari rumahnya yang terpencil di tepi ladang. Tak ada radio. Tak ada televisi.
            Merasa hidup sendiri, Nenek Sarifah merindukan kawan di rumahnya. Membeli ikan-ikan hias sewaktu pergi ke pasar. Memasukkan ikan-ikan itu ke dalam akuarium warisan Kakek Jafar. Meletakkan akuarium itu di sudut ruang tamu. Sejak itu, ia merasa memiliki kawan untuk mencurahkan segala beban yang tertimbun di benak kepala.
            Sesudah memelihara ikan-ikan di akuarium, Nenek Sarifah memiliki pekerjaan tambahan. Pagi sebelum berangkat ke ladang, ia memberi makan ganggang renik dan cacing sutra pada ikan-ikan itu. Sepulang dari ladang saat sore, ia menyempatkan duduk di ruang tamu untuk bercengkerama dengan ikan-ikannya. Mengetuk-ngetukkan ujung-ujung jarinya dari satu sisi ke sisi akuarium lainnya. Betapa girang, ketika ikan-ikan itu memburu jari-jarinya.
            Hari itu, Nenek Sarifah yang semula membenci ikan-ikan hingga sering ngomel ketika Kakek Jafar memboroskan waktu di ruang tamu itu merasa bersalah. Ia pun sontak teringat pada mendiang suaminya yang selalu mengatakan, “Betapapun tak memberikan keuntungan uang, ikan-ikan itu membuatku bahagia. Kebahagiaan itu sama halnya Tuhan yang tak ternilai harganya?”
***

            Hari demi hari, Nenek Sarifah tak lagi merasa sepi. Ikan-ikan yang tak pernah merasa lelah berenangan di akuarium itu menjadi kawannya. Kebahagiaan pun semakin bersahabat dengannya. Terlebih ketika merasakan ikan-ikan itu tampak bahagia di dunia mungilnya. Mirip napi-napi yang dapat mengubah ukuran penjara seluas dunia tak bertepi.
            Suatu malam. Selagi Nenek Sarifah menyaksikan ikan-ikan yang tengah bergurau, pintu rumahnya diketuk. Ia terkejut bercampur heran. Karena selama bertahun-tahun, tak seorang pun datang ke rumahnya. Karenanya, ia berpikir kalau yang datang bukan manusia. Barangkali hantu penunggu pohon munggur yang tumbuh di belakang rumah, atau malaikat yang akan mencabut nyawanya.
            Dengan tubuh bergetar, Nenek Sarifah beranjak dari kursi. Berjalan bersijingkat ke arah pintu. Ketika pintu itu dibukanya, ia melihat pria muda berwajah kusut, berambut kumal, bertubuh dekil. “Siapakah kamu, Nak? Kenapa datang ke rumahku malam-malam begini?”
            “Mencari Tuhan.”
            Mendengar jawaban pria muda itu, Nenek Sarifah sejenak terdiam. Dalam hati, ia menduga kalau pria muda itu tengah dirundung kesepian maha dahsyat. Kesepian yang berujung pergolakan jiwa. Kegelisahan yang menjadikannya seperti angin. Bertiup. Mencari ruang untuk mengendapkan jiwanya.
“Apakah di rumahku, Tuhan akan kamu temukan?”
“Bisik hatiku begitu.” Pria muda itu mengerling akuarium di sudut ruang tamu. “Bolehkah aku tinggal di rumah Nenek barang sehari dua hari? Aku yakin Tuhan tinggal di sini.”
“Selamanya kamu tinggal di sini, buatku tak soal. Asal kamu tak mengganggu ikan-ikanku.”
“Tentu.”
Nenek Sarifah membuka pintu lebar-lebar. Mempersilakan pria muda itu untuk memasuki rumahnya. Sesudah tamunya duduk di kursi ruang tamu, ia pergi ke dapur. Merebus air hingga masak. Selang beberapa saat, ia kembali ke ruang tamu. “Mandilah dengan air hangat, Nak! Biar tubuhmu menjadi segar.”
Pria muda itu melangkah ke sumur di samping rumah. Membasuh sekujur tubuhnya dengan air hangat. Seusai mengenakan pakaian milik mendiang Kakek Jafar, ia kembali ke ruang tamu. Mengisi perut dengan pohong rebus yang masih mengepulkan asapnya.
Malam mulai larut. Nenek Sarifah meninggalkan pria muda yang masih berjaga di ruang tamu itu. Memasuki bilik. Merebahkan tubuhnya di ranjang bambu. Dalam tidur, ia bermimpi. Menyaksikan cahaya terang yang memasuki akuarium di ruang tamu itu. Berubah menjadi ikan. 
***

            Ambang subuh, Nenek Sarifah terbangun. Usai bersembahyang, ia pergi ke ruang tamu untuk menjenguk pria muda itu. Sudah berulang kali ia mengelilingi rumahnya sampai terbit matahari, namun yang dicarinya tetap tak ada. Tak heran, kalau ia berpikir bahwa orang yang semalam bertamu adalah hantu penunggu pohon munggur. Bukan malaikat yang selalu berpakaian rapi dengan tubuh menebarkan aroma kesturi.
            Tujuh hari berlalu. Nenek Sarifah telah melupakan tamu misteriusnya yang mengaku sebagai pencari Tuhan. Namun saat pulang dari ladang, ia dikejutkan dengan amplop yang tergeletak di depan pintu rumahnya. Ia memungutnya. Mengambil selembar kertas di dalamnya. Membacanya dengan terbata-bata, “Terima kasih, aku ucapkan. Berkat ikan-ikan yang Nenek pelihara di akuarium itu, aku mendapatkan pelajaran. Di mana Tuhan tak perlu aku cari ke mana-mana. Di ruang seluas akuarium, Tuhan itu berada. Meluapkan kebahagiaan pada ikan-ikan itu. Hingga mereka menikmati kehidupan di dunia yang mungil. Mereka tak pernah mencari Tuhan. Karena Tuhan telah bersemayam di insang mereka. Sungguh menakjubkan!”
Nenek Sarifah meneteskan air mata keharuan. Bukan lantaran membaca surat itu, namun lantaran ikan-ikan di dalam akuariumnya. Ikan-ikan yang selalu memberikan kebahagiaan. Ikan-ikan yang memberikan jalan bagi setiap orang untuk menemukan Tuhan-nya. Ikan-ikan yang mengingatkan pesan Kakek Jafar. Lelaki tua bersahaja yang telah tinggal di surga.

Cilacap, 13 Januari 2016


SRI WINTALA ACHMAD.
Pernah kuliah di Fak. Filsafat UGM Yogyakarta. Menulis dalam tiga bahasa (Inggris, Indonesia, dan Jawa).
Juara II Lomba Menulis Cerpen 'Rahasia Ilahi' yang diselenggarakan FPNB bulan Januari 2017

Kontak: gununggampingindonesia@gmail.com 

***
Naskah menjadi hak FPNB

Salam Sastra
SBB

Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa

No comments:

Post a Comment