#010
AHHH… COKELAT
Maya Sri Sukma
Sampai juga di parkiran mini market, panas terik berganti sejuk ketika
membuka pintu, seperti biasa
udara dingin menyeruak keluar, dan terlihat rak-rak yang tersusun rapi.
Bergegas menuju rak paling belakang, dan
mengambil susu yang sedang promo. Begini lah nasib ibu-ibu. Untuk memastikan si
lanang gizinya tercukupi berburu susu promo,lumayan selisih Rp10.000 bisa beli
sayur untuk 5 hari yang harganya 2ribu-an (kangkung, toge, bayam dan
lainnya).
Ambil sekotak dan menuju kasir melewati
rak-rak cokelat. Terlihat harga sebatang cokelat sekarang Rp27.000… Ahh, dulu
kecil sering dibelikan bapa cokelat ini, sekarang realita rumah tangga, harga
Rp27.000 yo mahal tenan. Pingin icip lagi rasanya, pingin beli,tapi Rp27.000
bisa beli beras seliter,minyak seperempat kilo, sayur, tempe, dan telor, bisa
untuk makan sehari. Kalo sudah ibu-ibu yo ora waras, mentingin beli coklat
daripada beli beras, dan sayur. Terbersit pula 3 burung di rumah, hobi suami,
ahh,sebatang cokelat nda sebanding dengan harga kandangnya,tapi masyarakat
sudah lazim, yo nda pa-pa,kan suami sudah cape cari nafkah.. Ahh, terbayang
sedihnya ibu-ibu yang suaminya merokok, dan rokok menjadi barang kebutuhan
pokok selain sembako. Ah sudahlah, sebentar lagi Ramadhan bisa beli pas dapet
THR..Membatin
Setelah selesai, keluar dan bersahabat kembali
dengan terik matahari, engkol motor yang buat tambah berkeringat, bergegas
jemput sekolah. Alhamdulillah walau susah di engkol,tapi hasil jerih payah
sendiri, hasil jualan lauk jadi,dan ngajar ngaji. Dulu jualan jalan kaki,
sekarang sangat terbantu dengan motor. Sekalian buat ngojek.
Sampai depan gerbang madrasah, ngelihat si
lanang sedang bermain dengan temannya. Sudah bel pulang sekolah. “Assalamu
‘alaikum” sapaku ke anak lanangku satu-satunya dan Mas Fikri temannya yang
dititipkan umminya untuk di antar jemput, ummi dan abinya jaga toko.. “Wa
‘alaikumus salam” jawab mereka. “Ayo naik, dan ucap Bismillah” kataku. Dan kami
pun berjalan menuju rumah sekaligus toko Mas Fikri diringi celoteh mereka
berdua.
Kami sampai, Toko grosir beras yang selalu ramai,
Mas Fikri turun, dan mencium tanganku, dan mengucap salam. Masya Allah sopannya,
tanganku yang legam, dan aku yang tukang ojek. Kami membalas salamnya. Dan
tiba-tiba umminya keluar dan menghampiri kami. “Ummi Dzikri, jazakillah. Oiya
ini ada cokelat untuk Dzikri.” Umminya mengeluarkan sebatang cokelat yang tadi
aku lihat di mini market. “Terima kasih ummi Fikri. Asik um, cokelatnya besar,
bisa untuk Dzikri dan ummi” kata Dzikri. “Syukron katsiron ummi. Kami langsung
pulang ya um. Assalamu ‘alaikum.” Kataku buru-buru, khawatir air mata
membrebes keluar. Mengalir rasa haru di dada. Ya Allah, siapa yang peduli
dengan keinginan sebatang cokelat dari seorang ibu. Ya hanya Allah yang tau, dan hanya
Allah yang bisa memberikannya langsung tanpa menunggu THR. ah Cokelat betapa
keinginan sepele seorang ibu, mengajarkan kepadaku bahwa aku tak sendiri, masih
ada Robbku yang peduli. Terima kasih Allah, Terima kasih.. Alhamdulillah..
Termasuk 12 nominator Lomba Menulis Cerpen 'Rahasia Ilahi' yang diselenggarakan FPNB bulan Januari 2017
***
Naskah menjadi hak FPNB
Salam Sastra
SBB
Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa
No comments:
Post a Comment