Wednesday, 8 March 2017

Ahh… Cokelat



#010
AHHH… COKELAT
Maya Sri Sukma

Sampai juga di parkiran mini market, panas terik berganti sejuk ketika membuka pintu, seperti biasa udara dingin menyeruak keluar, dan terlihat rak-rak yang tersusun rapi.
Bergegas menuju rak paling belakang, dan mengambil susu yang sedang promo. Begini lah nasib ibu-ibu. Untuk memastikan si lanang gizinya tercukupi berburu susu promo,lumayan selisih Rp10.000 bisa beli sayur untuk 5 hari yang harganya 2ribu-an (kangkung, toge, bayam dan lainnya). 
Ambil sekotak dan menuju kasir melewati rak-rak cokelat. Terlihat harga sebatang cokelat sekarang Rp27.000… Ahh, dulu kecil sering dibelikan bapa cokelat ini, sekarang realita rumah tangga, harga Rp27.000 yo mahal tenan. Pingin icip lagi rasanya, pingin beli,tapi Rp27.000 bisa beli beras seliter,minyak seperempat kilo, sayur, tempe, dan telor, bisa untuk makan sehari. Kalo sudah ibu-ibu yo ora waras, mentingin beli coklat daripada beli beras, dan sayur. Terbersit pula 3 burung di rumah, hobi suami, ahh,sebatang cokelat nda sebanding dengan harga kandangnya,tapi masyarakat sudah lazim, yo nda pa-pa,kan suami sudah cape cari nafkah.. Ahh, terbayang sedihnya ibu-ibu yang suaminya merokok, dan rokok menjadi barang kebutuhan pokok selain sembako. Ah sudahlah, sebentar lagi Ramadhan bisa beli pas dapet THR..Membatin
Setelah selesai, keluar dan bersahabat kembali dengan terik matahari, engkol motor yang buat tambah berkeringat, bergegas jemput sekolah. Alhamdulillah walau susah di engkol,tapi hasil jerih payah sendiri, hasil jualan lauk jadi,dan ngajar ngaji. Dulu jualan jalan kaki, sekarang sangat terbantu dengan motor. Sekalian buat ngojek.
Sampai depan gerbang madrasah, ngelihat si lanang sedang bermain dengan temannya. Sudah bel pulang sekolah. “Assalamu ‘alaikum” sapaku ke anak lanangku satu-satunya dan Mas Fikri temannya yang dititipkan umminya untuk di antar jemput, ummi dan abinya jaga toko.. “Wa ‘alaikumus salam” jawab mereka. “Ayo naik, dan ucap Bismillah” kataku. Dan kami pun berjalan menuju rumah sekaligus toko Mas Fikri diringi celoteh mereka berdua.
Kami sampai, Toko grosir beras yang selalu ramai, Mas Fikri turun, dan mencium tanganku, dan mengucap salam. Masya Allah sopannya, tanganku yang legam, dan aku yang tukang ojek. Kami membalas salamnya. Dan tiba-tiba umminya keluar dan menghampiri kami. “Ummi Dzikri, jazakillah. Oiya ini ada cokelat untuk Dzikri.” Umminya mengeluarkan sebatang cokelat yang tadi aku lihat di mini market. “Terima kasih ummi Fikri. Asik um, cokelatnya besar, bisa untuk Dzikri dan ummi” kata Dzikri. “Syukron katsiron ummi. Kami langsung pulang ya um. Assalamu ‘alaikum.” Kataku buru-buru, khawatir air mata membrebes keluar. Mengalir rasa haru di dada. Ya Allah, siapa yang peduli dengan keinginan sebatang cokelat dari seorang ibu. Ya hanya Allah yang tau, dan hanya Allah yang bisa memberikannya langsung tanpa menunggu THR. ah Cokelat betapa keinginan sepele seorang ibu, mengajarkan kepadaku bahwa aku tak sendiri, masih ada Robbku yang peduli. Terima kasih Allah, Terima kasih.. Alhamdulillah..

Maya Sri Sukma, penulis yang tinggal di Kel. Baru, Kec. Pasarebo, Jakarta Timur. 
Termasuk 12 nominator Lomba Menulis Cerpen 'Rahasia Ilahi' yang diselenggarakan FPNB bulan Januari 2017

***
Naskah menjadi hak FPNB

Salam Sastra
SBB

Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa

No comments:

Post a Comment