Wednesday, 8 March 2017

Lelaki Sepeda



#058
LELAKI SEPEDA
Wardi

Ia membeli sepeda baru. Sepeda merek terbaik pada zamannya. Rodanya dua, berkonya bulat segitiga dari bahan terbaik pula. Belnya, inilah istimewanya. Sepeda punya teman pejabat desa dan tetangganya, belnya berbunyi kring memekakkan, tetapi sepeda baru ini belnya berbunyi ti…ng, ti……ng keras bernada bas.
Istrinya sangat bangga dengan sepeda baru suaminya itu. Ia menikmati sepeda baru itu. Ia selalu rindu dengan suara belnya yang merdu dan ngebas itu. Ia selalu ingin diboncengkan suaminya, ke mana saja, selain ke kantor.
Lelaki itu adalah lelaki kreatif dan pandai merawat sepeda. Sepeda yang semula berwarna hitam mulus, dalam sebulan sudah berganta-ganti warna: hitam, kuning, biru, merah, hijau, hitam lagi; terus berputar sesuai dengan arus seleranya. Istrinya mulai protes.
“Mas, ini sepeda priyayi. Mas juga priyayi, kan? Ngapain, sepeda ini dicoret-moret? Saru, Mas! Ini vandalisme! Aku malu, Mas!”
Lelaki itu menjawab singkat sekenanya, “Ya, Dik! Biar berubah pandangan”
Sepeda model sepeda priyayi, kini diubah fungsi menjadi sepeda sport. Ia bermain-main dengan sepedanya. Olah keterampilan mengendarai sepeda, lelaki itu sangat elok: lepas stang, model angkat roda depan, tiduran pada rangka, menungging, model sik-sak. Gesit sekali geraknya. Namanya menjadi kian populer: lelaki sepeda.
Istrinya, kian panas hati.
“Mbok ya yang wajar saja to, Mas. Masak lelaki setengah baya kok ngaksi pakai sepeda? Nyebut to, Mas. Kamu ini perangkat desa. Kamu ini panutan orang banyak. Mbok ya yang wajar saja! Aku wegah, Mas!”
Diam-diam, istri yang masih merasa berbody sportif itu, menuntun sepeda keluar rumah, putar-putar. Dengan rasa percaya diri, mak cangkrik, ia naiki sepeda. Al hamdulilaah lancar saja. Memang enjoy sepada ini, pikirnya. Tapi, ketika dia tak sengaja menggejot sepedanya ke arah belakang, sepeda itu tiba-tiba berhenti. Sang istri terjatuh. Ia meringgis kesakitan. Ia tutun sepedanya pulang. Ia protes keras kepada suaminya, kenapa jadi begitu. Jawab suaminya, itu sepeda terpedo. Posisi rantai dan gernya diubah, sehingga lebih gesit geraknya. Hanya satu pantangannya, jangan digenjot ke arah belakang.
Oleh tangan kreatif, sepeda itu kini berubah menjadi sepeda gunung. Lebih gesit larinya, dan lebih perkasa kekuatannya. Menaiki tanjangan agak tinggi, sepeda itu enteng-enteng saja. Untuk berboncengan suami istri yang kini bodynya membengkak, sepeda okey-okey saja, tetap perkasa.
Tahun-tahun berlalu. Tetapi lelaki dan sepedanya masih eksis. Generasi pun berganti. Sepeda itu sudah ratusan kali berubah, ya warna, fungsi, dan kelengkapannya. Sekarang zaman sepeda motor. Maka sepeda itu pun dikasih mesin, dimodivikasi motor sepeda balap. Keren!
Di usianya yang sudah pensiun, lelaki itu tetap perkasa meski istrinya sudah lama pelo bicaranya dan keriput kulit tangan dan pipinya. Lelaki tua itu mengikuti lomba grass-track sepeda kreatif di alun-alun depan Pemda. Tidak mau kalah dengan yang muda.
Para pembalap muda yang tahu diri itu tak mau mendahuluinya meski sepeda modifnya jauh berkualitas, hanya ditempel saja. Lelaki itu memperbesar gasnya. Perlombaan makin dekat finish. Motor sepeda modif lelaki itu meraung-raung, lajunya ndut, ndut, ndut pertanda BBM-nya nyaris habis. Dengan gesit lelaki itu mematikan mesin, mengubah ke sepeda balap sport. Remaja yang tahu diri itu kompak mematikan mesinnya mengubah fungsi sepeda seperti lelaki baya. Sampai ke finish, tak jadi juara. Dua pemuda  bersamaan memutus pita finish.
Seratus meter ke depan setelah garis finish, atas rahasia dan kehendak Tuhan, lelaki itu terjatuh menggembuskan nyawa terakhir, di puncak pestasinya, kelelahan.


WARDI, S.Pd. M.A., Lelaki yang tinggal di Tegalsari. Semin. Gunungkidul
Pemenang III Lomba Menulis Cerpen 'Rahasia Ilahi' yang diselenggarakan FPNB bulan Januari 2017

Kontak: wardi.punya@yahoo.com

***
Naskah menjadi hak FPNB

Salam Sastra
SBB

Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa
 

No comments:

Post a Comment