#058
LELAKI SEPEDA
Wardi
Ia membeli sepeda baru. Sepeda merek terbaik
pada zamannya. Rodanya dua, berkonya bulat segitiga dari bahan terbaik pula. Belnya,
inilah istimewanya. Sepeda punya teman pejabat desa dan tetangganya, belnya
berbunyi kring memekakkan, tetapi sepeda baru ini belnya berbunyi ti…ng, ti……ng
keras bernada bas.
Istrinya sangat bangga dengan sepeda baru
suaminya itu. Ia menikmati sepeda baru itu. Ia selalu rindu dengan suara belnya
yang merdu dan ngebas itu. Ia selalu ingin diboncengkan suaminya, ke mana saja,
selain ke kantor.
Lelaki itu adalah lelaki kreatif dan pandai
merawat sepeda. Sepeda yang semula berwarna hitam mulus, dalam sebulan sudah berganta-ganti
warna: hitam, kuning, biru, merah, hijau, hitam lagi; terus berputar sesuai
dengan arus seleranya. Istrinya mulai protes.
“Mas, ini sepeda priyayi. Mas juga priyayi,
kan? Ngapain, sepeda ini dicoret-moret? Saru, Mas! Ini vandalisme! Aku malu, Mas!”
Lelaki itu menjawab singkat sekenanya, “Ya,
Dik! Biar berubah pandangan”
Sepeda model sepeda priyayi, kini diubah
fungsi menjadi sepeda sport. Ia bermain-main dengan sepedanya. Olah
keterampilan mengendarai sepeda, lelaki itu sangat elok: lepas stang, model
angkat roda depan, tiduran pada rangka, menungging, model sik-sak. Gesit sekali
geraknya. Namanya menjadi kian populer: lelaki sepeda.
Istrinya, kian panas hati.
“Mbok ya yang wajar saja to, Mas. Masak lelaki
setengah baya kok ngaksi pakai sepeda? Nyebut to, Mas. Kamu ini perangkat desa.
Kamu ini panutan orang banyak. Mbok ya yang wajar saja! Aku wegah, Mas!”
Diam-diam, istri yang masih merasa berbody
sportif itu, menuntun sepeda keluar rumah, putar-putar. Dengan rasa percaya
diri, mak cangkrik, ia naiki sepeda. Al hamdulilaah lancar saja. Memang enjoy
sepada ini, pikirnya. Tapi, ketika dia tak sengaja menggejot sepedanya ke arah
belakang, sepeda itu tiba-tiba berhenti. Sang istri terjatuh. Ia meringgis
kesakitan. Ia tutun sepedanya pulang. Ia protes keras kepada suaminya, kenapa
jadi begitu. Jawab suaminya, itu sepeda terpedo. Posisi rantai dan gernya
diubah, sehingga lebih gesit geraknya. Hanya satu pantangannya, jangan digenjot
ke arah belakang.
Oleh tangan kreatif, sepeda itu kini berubah
menjadi sepeda gunung. Lebih gesit larinya, dan lebih perkasa kekuatannya.
Menaiki tanjangan agak tinggi, sepeda itu enteng-enteng saja. Untuk
berboncengan suami istri yang kini bodynya membengkak, sepeda okey-okey saja,
tetap perkasa.
Tahun-tahun berlalu. Tetapi lelaki dan
sepedanya masih eksis. Generasi pun berganti. Sepeda itu sudah ratusan kali
berubah, ya warna, fungsi, dan kelengkapannya. Sekarang zaman sepeda motor.
Maka sepeda itu pun dikasih mesin, dimodivikasi motor sepeda balap. Keren!
Di usianya yang sudah pensiun, lelaki itu
tetap perkasa meski istrinya sudah lama pelo bicaranya dan keriput kulit tangan
dan pipinya. Lelaki tua itu mengikuti lomba grass-track sepeda kreatif di
alun-alun depan Pemda. Tidak mau kalah dengan yang muda.
Para pembalap muda yang tahu diri itu tak mau
mendahuluinya meski sepeda modifnya jauh berkualitas, hanya ditempel saja.
Lelaki itu memperbesar gasnya. Perlombaan makin dekat finish. Motor
sepeda modif lelaki itu meraung-raung, lajunya ndut, ndut, ndut pertanda
BBM-nya nyaris habis. Dengan gesit lelaki itu mematikan mesin, mengubah ke
sepeda balap sport. Remaja yang tahu diri itu kompak mematikan mesinnya
mengubah fungsi sepeda seperti lelaki baya. Sampai ke finish, tak jadi juara.
Dua pemuda bersamaan memutus pita
finish.
Seratus meter ke depan setelah garis finish,
atas rahasia dan kehendak Tuhan, lelaki itu terjatuh menggembuskan nyawa
terakhir, di puncak pestasinya, kelelahan.
WARDI,
S.Pd. M.A., Lelaki yang tinggal di Tegalsari. Semin. Gunungkidul
Pemenang III Lomba Menulis Cerpen 'Rahasia Ilahi' yang diselenggarakan FPNB bulan Januari 2017
Kontak: wardi.punya@yahoo.com
***
Naskah menjadi hak FPNB
Salam Sastra
SBB
Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa
Naskah menjadi hak FPNB
Salam Sastra
SBB
Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa
No comments:
Post a Comment