#067
PULUNG GANTUNG, ASOKA
Oleh: Agus S Nur
#Pulang
Malam ini aku pulang hanya untukmu, Sumi, dan
maaf bila penampilanku berantakan, tidak seperti dulu. Di sana tidak ada
cermin, juga sisir, dan baju yang kupakai ini juga tak tahu milik siapa.Tapi
sudahlah, tak usah persoalkan masalah penampilan;yang penting aku pulang malam
ini, memenuhi rinduku. Tapi, bukankah di sebagian malam-malammu kau mengigaukan
namaku dalam mimpimu?Aku sering mendengarnya dan kau tak menyadarinya.
Apa kau masih menyimpan selendang merah itu?
Kalau masih, lebih baik segera buang atau bakar saja, karena selendang itu akan
menyiksa hari-harimu dan aku tidak mau itu terjadi padamu. O, ya, selama
tinggal di sana, berkumpul dengan mereka yang sudah lebih dulu sampai, selalu
membuat diriku merasa tak tenang. Aku, seperti angin tak menemukan arah. Setiap
detiknya, selalu merindukanmu, dan baru kali ini mendapatkan kesempatan bisa
menemuimu; aku bersyukur untuk itu.
Aku ingin sekali bercakap-cakap denganmu.
Telinga ini rindu suara merdu yang senantiasa keluar dari bibir indahmu. Bangunlah,
Sayang. Temuilah aku yang sedang dilanda hujan rindu ini.
#Pergi
Waktuku hampir habis dan sepertinya kau
terlampau lelah. Aku tahu
hari-harimu terasa semakin berat. Menjadi satu-satunya tumpuan keluarga
memanglah banyak memakan tenaga dan pikiran. Kau kerja dari pagi hingga petang,
hanya demi menjaga perut satu keluarga selalu berada dalam kondisi kenyang. Andai
dulu aku tidak mengikuti perintah benda laknat itu, pasti aku selamat dan masih
tidur di sampingmu malam ini. Aku memang laki-laki lemah iman dan jauh dari
Tuhan. Sebenarnya pulung gantung tidak akan pernah mampu membunuhku. Akan
tetapi pengaruh bisikannya begitu kuat sehingga mampu menarikku untuk melakukan
apa yang diperintahnya. Artinya, bukan benda itu yang membunuhku, namun diriku
sendiri yang telah membunuhku dan aku sangat menyesalinya sekarang.
Maaf, Sumi, rupanya aku tidak bisa berlama-lama
lagi ada di sini. Makhluk laknat itu memberi perintah agar aku segera membawa
benda sialan ini ke suatu tempat.
Ke sana, ya, ke sana, ke rumah Marda—laki-laki yang dulu pernah menyukaimu. Semoga
dia bisa kuat iman dan tidak mengikuti bisikan benda ini. Namun jika besok,
atau mungkin besoknya lagi, kau menemukan Marda melakukan moksa dengan jalan
sesat—gantung diri—, janganlah terkejut, janganlah sampai ribut, itu sudah
biasa. Mungkin suatu saat nanti kau juga akan merasakannya, anak-cucu kita mungkin juga akan bernasib sama. Tak
usah dipersoalkan, tak usah ditakuti, kita terima saja. Tapi jikalau kau ingin
dirimu, anak-cucu kita, atau masyarakat Gunungkidul ini menginginkan bisa terhindar
dari benda sialan ini, maka datanglah ke Mbah Wiro, dia tahu bagaimana cara
menangkal kutukan benda ini.
Cukup sampai di sini saja, Sumi. Aku pergi.
#Rahasia
Rupanya kau yang telah membangunkan aku,
Sokra.
Dari wangimu, aku tahu, kau baru saja
meninggalkan kamar ini. Jangan buat aku resah, Sokra. Hiduplah tenang di sana.
Sumpah demi Tuhan, aku sudah mengikhlaskan kepergianmu sungguh-sungguh. Jangan
khawatir, aku tidak akan
menikah lagi. Marda memang pernah datang ke sini, melamarku. Aku menolaknya
karena mulutnya terlalu lancang dengan mengatakan bahwa kau memilih jalan mati
gantung diri karena tak kuat menanggung hutang yang menggunung. Aku mengusirnya
kala itu, dan dia mengutukku biar segera didatangi pulung gantung. Dia kira aku
ini anak kecil yang gampang ditakut-takuti. Hah,
pendek akal dia. Sumpah demi Tuhan, Sokra, aku tidak pernah takut dengan yang
namanya pulung gantung, karena aku merasa Tuhan selalu bersamaku. Andaikan besok, atau besoknya lagi,
ada lagi orang yang harus mati gantung diri karena pulung gantung, sama sekali
itu tidak akan membuat diriku takut. Aku juga tidak akan pernah ribut dan akan
menyimpan rahasia pulung gantung ini rapat-rapat bersama Tuhan.
Sekali lagi, hiduplah tenang kau di sana, dan
jangan lupa doakan aku, Sokra, karena besok Marda akan datang lagi untuk
melamarku. Dia memang gila.
Asoka, 2017
Pria kelahiran Sumenep Madura-Jawa Timur. Pemenang I Lomba Menulis Cerpen 'Rahasia Ilahi' yang diselenggarakan FPNB bulan Januari 2017
Kontak: Agus.Salim.163@gmail.com
***
Naskah menjadi hak FPNB
Salam Sastra
SBB
Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa
No comments:
Post a Comment