Wednesday, 8 March 2017

Pulung Gantung, Asoka



#067
PULUNG GANTUNG, ASOKA
Oleh: Agus S Nur




#Pulang
Malam ini aku pulang hanya untukmu, Sumi, dan maaf bila penampilanku berantakan, tidak seperti dulu. Di sana tidak ada cermin, juga sisir, dan baju yang kupakai ini juga tak tahu milik siapa.Tapi sudahlah, tak usah persoalkan masalah penampilan;yang penting aku pulang malam ini, memenuhi rinduku. Tapi, bukankah di sebagian malam-malammu kau mengigaukan namaku dalam mimpimu?Aku sering mendengarnya dan kau tak menyadarinya.
Apa kau masih menyimpan selendang merah itu? Kalau masih, lebih baik segera buang atau bakar saja, karena selendang itu akan menyiksa hari-harimu dan aku tidak mau itu terjadi padamu. O, ya, selama tinggal di sana, berkumpul dengan mereka yang sudah lebih dulu sampai, selalu membuat diriku merasa tak tenang. Aku, seperti angin tak menemukan arah. Setiap detiknya, selalu merindukanmu, dan baru kali ini mendapatkan kesempatan bisa menemuimu; aku bersyukur untuk itu.
Aku ingin sekali bercakap-cakap denganmu. Telinga ini rindu suara merdu yang senantiasa keluar dari bibir indahmu. Bangunlah, Sayang. Temuilah aku yang sedang dilanda hujan rindu ini.

#Pergi
Waktuku hampir habis dan sepertinya kau terlampau lelah. Aku tahu hari-harimu terasa semakin berat. Menjadi satu-satunya tumpuan keluarga memanglah banyak memakan tenaga dan pikiran. Kau kerja dari pagi hingga petang, hanya demi menjaga perut satu keluarga selalu berada dalam kondisi kenyang. Andai dulu aku tidak mengikuti perintah benda laknat itu, pasti aku selamat dan masih tidur di sampingmu malam ini. Aku memang laki-laki lemah iman dan jauh dari Tuhan. Sebenarnya pulung gantung tidak akan pernah mampu membunuhku. Akan tetapi pengaruh bisikannya begitu kuat sehingga mampu menarikku untuk melakukan apa yang diperintahnya. Artinya, bukan benda itu yang membunuhku, namun diriku sendiri yang telah membunuhku dan aku sangat menyesalinya sekarang.
Maaf, Sumi, rupanya aku tidak bisa berlama-lama lagi ada di sini. Makhluk laknat itu memberi perintah agar aku segera membawa benda sialan ini ke suatu tempat. Ke sana, ya, ke sana, ke rumah Marda—laki-laki yang dulu pernah menyukaimu. Semoga dia bisa kuat iman dan tidak mengikuti bisikan benda ini. Namun jika besok, atau mungkin besoknya lagi, kau menemukan Marda melakukan moksa dengan jalan sesat—gantung diri—, janganlah terkejut, janganlah sampai ribut, itu sudah biasa. Mungkin suatu saat nanti kau juga akan merasakannya, anak-cucu kita mungkin juga akan bernasib sama. Tak usah dipersoalkan, tak usah ditakuti, kita terima saja. Tapi jikalau kau ingin dirimu, anak-cucu kita, atau masyarakat Gunungkidul ini menginginkan bisa terhindar dari benda sialan ini, maka datanglah ke Mbah Wiro, dia tahu bagaimana cara menangkal kutukan benda ini.
Cukup sampai di sini saja, Sumi. Aku pergi.

#Rahasia
Rupanya kau yang telah membangunkan aku, Sokra.
Dari wangimu, aku tahu, kau baru saja meninggalkan kamar ini. Jangan buat aku resah, Sokra. Hiduplah tenang di sana. Sumpah demi Tuhan, aku sudah mengikhlaskan kepergianmu sungguh-sungguh. Jangan khawatir, aku tidak akan menikah lagi. Marda memang pernah datang ke sini, melamarku. Aku menolaknya karena mulutnya terlalu lancang dengan mengatakan bahwa kau memilih jalan mati gantung diri karena tak kuat menanggung hutang yang menggunung. Aku mengusirnya kala itu, dan dia mengutukku biar segera didatangi pulung gantung. Dia kira aku ini anak kecil yang gampang ditakut-takuti. Hah, pendek akal dia. Sumpah demi Tuhan, Sokra, aku tidak pernah takut dengan yang namanya pulung gantung, karena aku merasa Tuhan selalu bersamaku. Andaikan besok, atau besoknya lagi, ada lagi orang yang harus mati gantung diri karena pulung gantung, sama sekali itu tidak akan membuat diriku takut. Aku juga tidak akan pernah ribut dan akan menyimpan rahasia pulung gantung ini rapat-rapat bersama Tuhan.
Sekali lagi, hiduplah tenang kau di sana, dan jangan lupa doakan aku, Sokra, karena besok Marda akan datang lagi untuk melamarku. Dia memang gila.

Asoka, 2017







Agus S Nur adalah Agus Salim.  
Pria kelahiran Sumenep Madura-Jawa Timur. Pemenang I Lomba Menulis Cerpen 'Rahasia Ilahi' yang diselenggarakan FPNB bulan Januari 2017

Kontak: Agus.Salim.163@gmail.com

***
Naskah menjadi hak FPNB

Salam Sastra
SBB

Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa

No comments:

Post a Comment