#123
SEBUNGKUS NASI RENDANG
Irkham Maulana
Bel tanda masuk kelas telah berdentang,
Beberapa murid pun sudah duduk rapi menunggu guru datang menyampaikan materi.
Hanya beberapa, karena mereka yang duduk rapi hanya baris satu dua paling depan.
Sedangkan di barisan paling akhir beberapa murid bahkan masih bermain catur
yang belum dapat keputusan siapa
pemenangnya.
“Kau jaga di depan pintu ya. Bilang
kalau Bu Guru sudah keluar dari kantor sekolah.” Seru seorang murid bernama
Salim yang masih terlihat serius menghadapi lawan satu kelasnya. Mainan catur
yang Salim bawa dari rumah ini dilengkapi dengan magnet, jadi tak akan terjatuh
meskipun meja yang digunakan tersenggol sikut seseorang.
Seorang anak kecil yang daritadi
berjaga di pintu mulai masuk dengan wajah panik.
“Bu, guru sudah datang!”
Semua murid kembali ke bangku
masing-masing, merapikan baju, bangku dan meletakkan kedua siku di atas meja.
Hanya Salim yang terlihat lebih sibuk dibandingkan yang lain karena harus
membereskan bidak-bidak ke dalam kotak catur.
“Hampir saja ketahuan Bu Guru. Tapi
sial, padahal tinggal sedikit lagi aku pasti menang, Sim!” seru Salim kepada
teman sebangkunya yang bernama Kasim.
“Iya tadi padahal aku lihat ratumu
tinggal makan pion yang di depan raja dan sudah pasti skakmat, Lim.”
Pakaian Kasim begitu lusuh, terdapat
garis-garis lipatan di bajunya. Tak ada sedikitpun bekas setrika menggilas kain
tersebut karena memang keluarga mereka tidak punya setrika. Dulu pernah
berpikir meminjam tetangga barang sebentar, namun ketika colokan masuk ke stop
kontak, seketika listrik di rumah Kasim padam.
“Sim, nanti malam kosong? Kita ke
alun-alun yuk?”
“Mau apa, Lim? Ke alun malam-malam?
Nanti kalau kita bangun pagi kesiangan gimana?”
“Kan besok libur, Sim. Tuh lihat
kalender yang ada di tembok, besok sudah harus diganti karena sudah ganti
tahun. Nanti malam langsung aku samperin ke rumahmu ya!”
Kasim tidak menjawab. Namun dia juga
tidak menggelengkan kepala sebagai tanda tidak setuju.
***
Salim telah berdiri di depan rumah pintu
Kasim. Beberapa laron terlihat berputar-putar di sekitar nyala lampu kuning
yang redup karena sudah lama tidak diganti. Laron-laron tersebut seakan
mengejek si pemilik rumah yang tak mampu untuk sekadar membeli lampu hemat
energi yang baru. Sesuai janji yang mereka buat tadi pagi, Salim menghampiri
Kasim untuk sama-sama pergi ke alun-alun merayakan malam tahun baru.
“Yuk, Sim. Kita berangkat. Kalau
terlambat, kita tidak kebagian pesta kembang apinya bisa gawat!” Tangan Kasim
telah berada di genggaman Salim. Anak itu terlihat begitu antusias untuk
menghabiskan malam di alun-alun kota bersama kawan-kawan lain. Mereka telah
menunggu di pelataran halaman rumah Kasim. Jarak antara rumah Kasim dan
alun-alun tidak begitu jauh, bisa mereka tempuh dengan berjalan kaki.
Baru beberapa langkah mereka
berjalan di gang kampung, bunyi gemuruh tiba-tiba terdengar. Mereka memandang
langit, ternyata ia begitu bersih dan dipenuhi bintang-bintang.
“Tadi bunyi apa ya?” Kawanan
anak-anak itu saling pandang satu sama lain.
Suara gemuruh itu kembali lagi. Dan
semua mata spontan tertuju ke arah Kasim.
“Maaf, kalian tunggu di sini
sebentar ya!” Kasim langsung berlari kembali menuju ke dalam rumah sambil
memegangi perut dengan kedua tangannya.
“Haha, pasti perut dia sedang mulas
sampai larinya seperti itu!”
Kawan-kawan itu tentu tidak tahu apa
sebenarnya yang terjadi dengan perut Kasim.
“Yuk berangkat!” Kasim berseru. Sekarang
di perutnya terdapat ikatan dengan sarung.
***
“Yang ini harganya berapa ya, Bang?”
tanya Salim kepada penjual terompet yang mangkal di tepian alun-alun.
“Dua puluh ribuan, Dek.”
“Kalau itu yang paling besar? Aku
mau beli yang besar biar suaranya yang paling keras!”
“Tiga puluh lima ribu, Dek.”
“Siap, Bang. Aku beli satu ya!”
Kasim dari tadi justru memandang
warung padang tepat di belakang penjual terompet mangkal. Ia terlihat sedang
mengeja menu-menu dan harga yang dipajang di bagian depan. Rendang, Cumi,
Bandeng, Telur, Tahu, Tempe, Ayam ia eja satu per satu.
“Sim, kau tidak beli terompet atau
kembang api?”
“Eh tidak, Lim.”
“Tenang saja, Sim. Nanti kau
kupinjami terompet punyaku. Terompet paling besar!”
“Makasih, Lim.” Kasim tersenyum. Ia
memandang lagi daftar menu di warung padang, kemudian menunduk. Sekarang Salim
dan teman-temannya telah menggenggam terompet masing-masing di tangan. Salim
bahkan memegang amunisi tambahan berupa kembang api berukuran sedang.
“Aku tadi hendak beli yang paling
besar juga, Sim. Harganya murah. Nggak ada dua ratus ribu untuk lima kali
ledakan. Murah, Kan? Tapi ya itu, aku lupa bawa uang banyak-banyak tadi. Sedih
aku jadinya.” Seru Salim kepada Kasim kawan baiknya.
“Yuk duduk di sana saja.” Tunjuk salah
satu kawan yang diikuti oleh Salim dan Kasim. Mereka akhirnya duduk-duduk di
bangku semen alun-alun. Menanti detik-detik pergantian tahun. Satu dua orang
mulai membunyikan terompet yang mereka beli. Saling beradu suara siapa paling
keras.
“Eh, yuk hitung mundur bareng
teman-teman.!”
“Lima, Empat, Tiga, Dua, Satu!”
bunyi terompet serempak terdengar. Kembang-kembang api mulai meluncur ke
angkasa. Meledak dan menyebar dengan titik-titik cahaya warna-warni. Baik
Salim, Kasim dan semua orang yang berada di alun-alun memandang ke atas langit.
“Dueerrr!”
“Satu bungkus.” desah Kasim pelan.
Salim menoleh ke arah Kasim sejenak.
Memperhatikan kawannya itu menghitung ledakan kembang api di angkasa dengan
diakhiri kata bungkus.
“Dasar ada ada aja cara menghitungmu, Sim,
Sim!” Salim kembali memandang ke langit. Menikmati warna-warni di tengah langit
gelap malam.
***
“Yuk pulang, Sim!” ajak Salim
setelah tak ada lagi kembang api yang meledak-ledak di udara.
Semua orang yang berada di alun-alun
tersebut mulai beranjak pulang, bunyi terompet sudah tidak seramai ketika jarum
menunjukan pukul dua belas malam. Hanya menyisakan satu dua orang yang sambil
lalu melangkah keluar dari alun-alun. Para pedagang pun mulai menggulung
tikar-tikar yang mereka gelar di tanah lapang tersebut.
“Sim, Kasim, Yuk pulang!” Salim
mengulangi kalimatnya sambil berjalan keluar lapangan juga. Beberapa kali dia
berseru, tapi tak ada tanggapan sama sekali dari seruannya. Padahal sekitar
sepuluh menit yang lalu, Kasim berdiri tepat di sebelahnya. Maka Salim pun
menyapu pandangan ke segala arah.
Kawannya Kasim ternyata tengah
memunguti terompet-terompet yang berserakan ditinggal pemiliknya.
“Wah, dasar anak baik kau, Sim!”
Lima detik kemudian, apa yang Salim
lihat sungguh membuat dirinya tercengang. Terompet-terompet yang berada di
pelukan tangan Kasim, ternyata Kasim masukan satu per satu ke dalam mulut. Kasim
kunyah-kunyah dan menelannya.
“Hei, Sim. Kau sedang apa?” tangan
Salim reflek mencengkeram genggaman Kasim yang hendak memasukan lagi kertas
terompet ke dalam mulutnya. Salim berusaha menghentikan tingkah polah Kasim.
“Aku sedang makan kertas-kertas
seharga nasi rendang!” jawab Kasim sambil terus menerus mengunyah. Dari sudut
matanya ada satu dua tetes air bening. Entah karena dia sedang bersedih ataukah
karena dia kesulitan untuk menelan.
“Dari tadi aku mencari kembang api
tapi tidak ketemu, ingin kumasukkan ke mulutku juga kembang api itu supaya bisa
mengganjal perutku. Aku juga penasaran dengan rasanya. Jangan jangan dengan
harga dua ratus ribuan harganya akan selezat makanan yang kau sebut pizza.”
senyum Kasim kecut.
Irkham Maulana. Pemenang Pembinaan Kreativitas Lomba Menulis Cerpen 'Rahasia Ilahi' yang diselenggarakan FPNB bulan Januari 2017
***
Naskah menjadi hak FPNB
Salam Sastra
SBB
Sila bergabung di
Grup FB www.facebook.com/sastrabukitberbintang
Instagram @sbbGeKa
Twitter @sbbGeKa
No comments:
Post a Comment